Aroma Darah di Sekitar Rumah

Aroma Darah di Sekitar Rumah

Saat itu, aku baru beberapa hari datang dari kota, menengok keluarga setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan bekerja di kota. Hari sudah sore, dan sebentar lagi waktu magrib. Perutku tiba-tiba terasa sakit, akhirnya aku beranjak menuju WC untuk BAB. Kamar mandi dan WC memang tidak terletak di dalam rumah, melainkan berada di samping rumah. Sementara di belakang WC dan kamar mandi, hanya terdapat tanaman pohon cokelat dan juga kelapa, maklum saja, rumahku terletak di desa yang bisa dikatakan sedikit terpencil. Begitu pula di samping kiri rumah, hanya ada pepohonan saja. Sementara di samping kanan, ada rumah tetangga, namun sudah begitu lama tak berpenghuni. 

Baru ingin membuka pintu WC, hawa dingin seketika menerpa kulitku. Aku berusaha mengenyahkan rasa tak enak yang menerpa, dengan menyugesti diri kalau tadi hanyalah angin yang bertiup kencang—meski kuperhatikan pohon-pohon di samping rumah tak ada yang bergoyang. 

Aku kembali melanjutkan kegiatanku, membuka pintu dan masuk ke dalam sana. Baru mengunci pintu WC dari dalam, bau darah terasa begitu menyengat hidung. Badanku pun langsung terasa dingin, seperti ada angin kencang yang meniup belakang leherku sehingga mampu membuat bulu kuduk merinding. 

Bau darah itu sangat menyengat, hingga membuatku nyaris muntah. Buru-buru aku keluar dari sana, dan segera masuk ke dalam rumah. Rasa ingin BAB yang tadi kurasa, entah sudah menguap ke mana. 

Esok harinya, sekitar jam sepuluh pagi, setelah membersihkan rumah aku bermaksud membuang sampah di pembakaran yang letaknya di belakang rumah. Seember sampah itu kuangkat dengan kedua tangan—karena lumayan berat. Sampai di pembuangan, aku segera membuang sampah yang ada di ember tersebut. Saat berbalik, bau darah kembali tercium. Sama seperti kemarin, bersamaan dengan bau darah tersebut ada angin yang terasa begitu dingin menerpa kulit. Karena sudah kedua kalinya mengalami hal yang sama, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Malam harinya, saat Ibu dan Ayahku sudah pulang dari sawah, aku menceritakan semuanya. Ibuku hanya menjawab, mungkin saja di sekitar rumah ada ayam atau hewan lain yang mati. Aku mengangguk saja, karena menurutku lumayan masuk akal. 

Sama seperti kemarin, hari ini aku kembali sendirian di dalam rumah. Orang tuaku tengah pergi ke sawah, sementara adikku tengah pergi ke sekolah. Kali ini, bau darah serta angin itu muncul saat aku sedang mencuci piring. Karena rasa penasaran, aku turun ke tanah dan mencari-cari di sekitar rumah, siapa tahu saja perkataan Ibuku kemarin benar. Namun, hasilnya nihil. Tak ada satupun yang kutemukan. 

Malam harinya, aku kembali mengatakan pada Ibuku. Belum sempat ibuku menanggapi, ponsel Nokia Jadul miliknya berdering. Ia mengernyitkan dahi, saat melihat salah satu sepupunya yang menelepon. Ucapan yang duluan aku dengar setelah dia bertanya kabar, adalah kalimat “Innalillaahi wa Inna ilaihi Raji’un.” Ternyata sepupunya itu hanya mengabarkan, kalau salah satu keponakan mereka ada yang meninggal. Saat ditanya penyebab kematiannya, jawabannya adalah keguguran. Sudah berhari-hari di rumah sakit, dan tadi sore kembali pendarahan, serta tak bisa lagi diselamatkan. Beberapa menit yang lalu, dia menghembuskan napas terakhirnya. 

Kami sekeluarga jelas kaget, dan merasa turut bersedih. Tiba-tiba, aku teringat kejadian tiga hari belakangan ini yang aku alami. Mungkin saja, bau darah itu adalah pertanda. Karena dari cerita ibuku, baru beberapa Minggu yang lalu dia datang ke rumah ini, dan mengobrol lama dengan Ibuku. Esok harinya, bau darah itu tak lagi tercium, begitupun hari-hari berikutnya. Membuatku semakin yakin, kalau kejadian itu hanyalah salah satu pertanda kepergiannya. Entah benar atau salah, yang jelasnya, kejadian mistis yang menjadi penanda sebelum kepergian orang yang kita kenal atau keluarga seperti itu memang sering terjadi di kampungku.